Bakaran Batu Lubuk Pakam Jadi Sarang Judi, Anak-anak Dijadikan Umpan, Bandar Besar Diduga Dipelihara

ASWAR

- Redaksi

Jumat, 8 Mei 2026 - 01:33 WIB

5011 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detiktimur.net Deli Serdang – Mesin judi ikan, tembak naga, bola putar, dan dingdong berkedok permainan anak bebas beroperasi di kawasan Bakaran Batu, perbatasan Lubuk Pakam, Deli Serdang. Ini bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, tapi pembusukan sosial yang dibiarkan tumbuh terang-terangan di depan mata aparat.

 

Seorang tokoh agama setempat menegaskan, perjudian berkedok permainan anak adalah bentuk kemungkaran paling kotor karena merusak generasi sejak usia dini. Anak-anak dijadikan pintu masuk, orang tua dipaksa keluar uang, sementara bandar duduk santai menikmati hasil dari kehancuran moral masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

“Judi itu haram, merusak rumah tangga, menghancurkan akhlak, dan memiskinkan rakyat. Kalau ini dibiarkan hidup, berarti yang dipelihara bukan permainan, tapi kehancuran. Lebih parah lagi jika aparat memilih diam, karena diam terhadap kemungkaran adalah bentuk pengkhianatan terhadap masyarakat,” tegasnya.

 

Ironisnya, bisnis haram ini tidak beroperasi di lorong gelap atau tempat tersembunyi. Mesin-mesin itu berdiri terang benderang, lampu menyala siang malam, pemain keluar masuk tanpa takut, uang berputar deras setiap hari. Seolah-olah lokasi itu bukan arena judi, tapi kantor resmi yang punya perlindungan penuh.

 

Warga menyebut bisnis ini diduga milik “Bos AK”, seorang berinisial A asal kawasan Cemara, dengan operasional lapangan dikendalikan ARS. Nama mereka bukan rahasia. Semua orang tahu. Pedagang tahu. Tukang parkir tahu. Ibu-ibu tahu. Bahkan anak-anak pun tahu. Kalau aparat masih mengaku tidak tahu, itu bukan kelalaian itu penghinaan terhadap akal sehat publik.

 

Modusnya licik dan menjijikkan: mesin dihias gambar ikan berenang, naga berputar, lampu warna-warni, suara ramai, dibuat seolah permainan anak biasa. Padahal isinya judi uang. Anak-anak dipancing masuk, dibuat ketagihan, lalu orang tua diperas pelan-pelan. Ini bukan hiburan ini bisnis haram yang menjual kerusakan.

 

“Anak kami tiap hari minta uang buat main game ikan itu. Mereka bilang cuma permainan, padahal itu judi. Ini racun yang sengaja ditanam supaya anak-anak rusak dari kecil,” kata Wati, warga setempat.

 

Yang paling memalukan, semua ini berdiri jelas di wilayah hukum Polresta Deli Serdang. Lokasi nyata, mesin nyata, omzet nyata. Tidak mungkin aparat tidak tahu. Jadi pertanyaannya tinggal satu: tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau memang ada yang ikut menikmati?

 

Karena mustahil perjudian sebesar ini bisa hidup lama tanpa beking. Bandar tidak akan berani membuka usaha terang-terangan kalau tidak merasa aman. Dan rasa aman seperti itu biasanya tidak lahir dari langit, tapi dari sistem yang sudah busuk.

 

Tokoh agama itu kembali menegaskan, jika aparat tetap diam, maka masyarakat berhak curiga bahwa hukum sudah tidak lagi berpihak pada kebenaran.

 

“Kalau judi besar dibiarkan hidup sementara rakyat kecil cepat ditindak, itu bukan penegakan hukum, itu penghinaan terhadap keadilan. Jangan sampai masyarakat percaya bahwa hukum hari ini bukan soal benar atau salah, tapi soal siapa yang setor lebih besar,” ujarnya keras.

 

Polresta Deli Serdang tidak perlu pidato, tidak perlu pencitraan, tidak perlu alasan klasik. Yang dibutuhkan hanya tindakan: gerebek lokasi, sita seluruh mesin, tangkap pengelola, dan bongkar siapa yang menjadi pelindung di belakang layar.

 

Kalau itu tidak dilakukan, maka kesimpulannya sederhana: judi bukan sulit diberantas, tapi sengaja dipelihara karena terlalu banyak tangan yang ikut menerima bagian.

 

Rzn

Berita Terkait

LBHK–Wartawan Deli Serdang Laporkan Dugaan Korupsi Dana Desa Bakaran Batu ke Kejari, Soroti Dugaan Upaya “Tutup Mulut”
Tanggapan Resmi Atas Pemberitaan Negatif Terkait Meninggalnya Tahanan
Menggugat Hak di Pengadilan, Eks Karyawan PT Torganda Diduga Diintimidasi: Buruh Mencari Keadilan, Perusahaan Menekan
BLT Lansia Diduga “Disunat” Diam-Diam? Rp300 Ribu Hilang Tanpa Jejak, Warga Purwodadi Meledak  Kades Bungkam, Wartawan Malah Diblokir
Pers Diserang dengan Ancaman, Oknum NS Diduga Kalap Saat Pemberitaan Mulai Menyentuh Fakta Sensitif
Cetak Generasi Cerdas dan Berkarakter, Sekolah Nila Harapan Sukses Wisuda 70 Siswa Tahun 2026
Kalapas Binjai Perkuat Sinergitas dengan Polres Binjai, Bahas Pengamanan hingga Latihan Menembak Bersama
Tak Hanya Jaga Kamtibmas, Polsek Tapung Hilir Bina Petani Sukseskan Ketahanan Pangan Kampar

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:52 WIB

LBHK–Wartawan Deli Serdang Laporkan Dugaan Korupsi Dana Desa Bakaran Batu ke Kejari, Soroti Dugaan Upaya “Tutup Mulut”

Jumat, 8 Mei 2026 - 01:33 WIB

Bakaran Batu Lubuk Pakam Jadi Sarang Judi, Anak-anak Dijadikan Umpan, Bandar Besar Diduga Dipelihara

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:11 WIB

Tanggapan Resmi Atas Pemberitaan Negatif Terkait Meninggalnya Tahanan

Kamis, 7 Mei 2026 - 17:05 WIB

Menggugat Hak di Pengadilan, Eks Karyawan PT Torganda Diduga Diintimidasi: Buruh Mencari Keadilan, Perusahaan Menekan

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:55 WIB

Pers Diserang dengan Ancaman, Oknum NS Diduga Kalap Saat Pemberitaan Mulai Menyentuh Fakta Sensitif

Kamis, 7 Mei 2026 - 01:12 WIB

Cetak Generasi Cerdas dan Berkarakter, Sekolah Nila Harapan Sukses Wisuda 70 Siswa Tahun 2026

Rabu, 6 Mei 2026 - 21:53 WIB

Kalapas Binjai Perkuat Sinergitas dengan Polres Binjai, Bahas Pengamanan hingga Latihan Menembak Bersama

Rabu, 6 Mei 2026 - 21:07 WIB

Tak Hanya Jaga Kamtibmas, Polsek Tapung Hilir Bina Petani Sukseskan Ketahanan Pangan Kampar

Berita Terbaru