Detiktimur.net Deli Serdang — Hanya 600 meter dari kantor desa, sebuah sarang judi sabung ayam brutal berdiri tanpa rasa takut. Di Gang Sosial Desa Pantai Labu Pekan, ayam-ayam dipertarungkan hingga berdarah, sementara manusia bersorak menyaksikan kekejaman itu dan aparat? Mereka membiarkan semua ini terjadi, Rabu (28/12026).
Beberapa lapak tersebar, masing-masing dikelola orang berbeda. Tapi satu hal jelas: tidak ada penindakan, tidak ada teguran, hukum seakan mati di sini. Pemain judi datang dari jauh, menumpuk taruhan, menikmati pertarungan hewan yang berdarah-darah, seakan kekerasan adalah hiburan resmi.
Warga setempat, terutama orang tua dan anak-anak, terpaksa menjadi saksi mata kekejaman ini setiap hari. Suara ayam yang diremas, darah yang muncrat, dan teriakan pemain yang histeris menjadi simfoni kengerian sehari-hari. Trauma dan ketakutan membekas, tapi siapa peduli? Aparat tak bergerak, hukum tak terdengar.
Seorang warga, Andi, menegaskan dengan nada marah :
“Ini sudah keterlaluan. Belum pernah ada penggerebekan. Pemain sabung ayam merasa aman, bahkan di depan kantor desa. Hukum? Mereka pura-pura buta, pura-pura tuli. Judi ini seolah dihalalkan oleh aparat itu sendiri!”
Fenomena ini bukan sekadar perjudian. Ini pesta kekejaman terbuka, simbol kegagalan institusi hukum. Negara seakan mundur, warga kecil dikurung dalam ketakutan, sementara para pelaku berjaya dengan darah ayam di tangan.
Jika ini dibiarkan, Pantai Labu Pekan akan menjadi markas brutalitas yang terang-terangan, tempat hukum hanyalah mitos, dan kekejaman menjadi tontonan resmi. Aparat yang diam? Mereka tidak hanya gagal, mereka ikut menormalisasi kekejaman.
































