Detiktimur.net Deli Serdang – Pelaksanaan konser dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Deli Serdang menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah warga mengaku kecewa karena tidak dapat memasuki area depan panggung akibat tidak memiliki BET atau tanda akses masuk yang diberlakukan panitia.
Berdasarkan pantauan di lokasi, area utama konser dipadati tamu yang memiliki BET, sementara banyak masyarakat umum hanya dapat menyaksikan jalannya acara dari samping panggung, pinggir jalan, hingga luar pagar pembatas. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pembagian BET dan pihak-pihak yang diprioritaskan untuk memperoleh akses.
Sejumlah warga menilai konser yang digelar dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Deli Serdang seharusnya dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat. Menurut mereka, kegiatan yang dibiayai menggunakan anggaran daerah semestinya memberikan ruang yang setara bagi seluruh warga untuk ikut merasakan kemeriahan perayaan, tanpa menimbulkan kesan adanya perlakuan berbeda.
Di tengah kekecewaan masyarakat, muncul anggapan bahwa BET VIP lebih banyak dimiliki oleh kalangan tertentu, termasuk mereka yang dianggap memiliki kedekatan dengan pejabat daerah. Namun, hingga berita ini diterbitkan, panitia penyelenggara maupun Pemerintah Kabupaten Deli Serdang belum memberikan penjelasan resmi mengenai mekanisme pembagian BET VIP maupun pihak yang berhak menerimanya.
Salah seorang warga mengaku kecewa setelah dihalangi petugas saat hendak memasuki area depan panggung.
“Kami tidak bisa masuk dari pintu depan, Bang. Petugas bilang yang boleh masuk hanya pemegang BET VIP. Pertanyaannya, BET VIP itu dibagikan kepada siapa? Masyarakat bisa dapat dari mana? Ini HUT Deli Serdang, harusnya pesta rakyat, bukan pesta untuk kalangan tertentu,” keluhnya.
Warga lainnya juga mempertanyakan keadilan dalam sistem pembatasan akses tersebut.
“Padahal perayaan HUT Deli Serdang ini menggunakan anggaran yang bersumber dari uang rakyat. Kenapa justru kami diperlakukan berbeda? Apakah kami hanya disebut rakyat saat diminta membayar pajak, tetapi ketika pesta daerah digelar kami hanya bisa berdiri di luar pagar dan menonton dari pinggir jalan? Kalau memang ini pesta rakyat, mengapa harus ada sekat antara VIP dan masyarakat biasa?”
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak mempermasalahkan keberadaan tamu undangan, tetapi berharap adanya keterbukaan dalam pembagian akses.
“Kami tidak iri dengan tamu undangan, tetapi kami mempertanyakan keadilannya. BET VIP itu sebenarnya dibagikan kepada siapa? Apa kriterianya? Mengapa masyarakat tidak pernah diberi informasi bagaimana cara mendapatkannya? Jangan sampai muncul kesan bahwa yang bisa menikmati acara dari depan panggung hanyalah kalangan tertentu, sementara rakyat yang menjadi bagian dari daerah ini justru tersisih.”
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dan panitia penyelenggara memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme pembagian BET VIP agar tidak menimbulkan spekulasi maupun prasangka di tengah masyarakat.
“Hari ulang tahun Kabupaten Deli Serdang seharusnya menjadi momen yang menyatukan seluruh masyarakat, bukan malah membuat rakyat merasa dibedakan. Kami berharap pemerintah dan panitia berani menjelaskan secara terbuka mekanisme pembagian BET VIP agar tidak menimbulkan berbagai pertanyaan dan prasangka di tengah masyarakat.”
Menurut sejumlah warga, transparansi dalam penyelenggaraan kegiatan publik sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama menikmati perayaan yang diselenggarakan atas nama hari jadi Kabupaten Deli Serdang.
































